[LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI DAN FISIOLOGI TUMBUHAN] KURVA SIGMOID PERTUMBUHAN

>> Rabu, 03 Oktober 2012

ABSTRAK
Laju pertumbuhan tanaman sangat penting diperhatikan. Untuk itu pada praktikum kali ini digunakan tanaman jagung (Zea mays) yang ditanam hingga menghasilkan bunga dengan dua jenis perlakuan yaitu destruktif dan non-destruktif. Perlakuan destruktif dengan melakukan pencabutan tanaman jagung setiap minggu sedangkan pada perlakuan non-destruktif tidak ada tanaman jagung yang dicabut. Dari hasil pengamatan didapatkan laju pertumbuhan yang lebih tinggi pada perlakuan destruktif dibandingkan dengan perlakuan non-destruktif. Data yang diperoleh juga membentuk kurva sigmoid pertumbuhan yakni membentuk huruf S. Selain itu pertumbuhan juga dipengaruhi faktor eksternal meliputi suhu udara, suhu tanah, curah hujan, kelembaban, dry, wet, dan evaporasi.

Kata kunci: Pertumbuhan, Laju Pertumbuhan, Jagung (Zea mays), Destruktif, Non-Destruktif, dan Kurva Sigmoid


A. PENDAHULUAN

a). Latar Belakang
Banyak sekali faktor yang mempengaruhi pertumbuhan suatu tanaman, baik yang merupakan faktor dalam maupun faktor luar. Untuk mendapatkan tanaman yang baik dan sesuai yang diharapkan maka sangat penting bagi kita terutama para petani untuk mengetahui dan memperhatikan fakor-faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan suatu tanaman.
Jagung merupakan suatu jenis tanaman yang sangat mudah tumbuh dan merupakan kelompok tumbuhan berumu pendek sehingga pada praktikum kali ini digunakan tanaman jagung untuk melihat berbagai faktor yang mempengaruhi suatu pertumbuhan tanaman serta membandingkan tingkat pertumbuhan antara tanaman jagung dengan perlakuan destruktif maupun non destruktif. Selanjutnya data pengamatan yang didapatkan tersebut dibuat dalam bentuk kurva sigmoid pertumbuhan.

b). Dasar Teori
Proses pertumbuhan merupakan hal yang mencirikan suatu perkembangan bagi makhluk hidup; baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Dalam proses pertumbuhan terjadi penambahan dan perubahan volume sel secara signifikan seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya umur tanaman. Proses pertumbuhan menunjukkan suatu perubahan dan dapat dinyatakan dalam bentuk kurva/diagram pertumbuhan. Laju pertumbuhan suatu tumbuhan atau bagiannya berubah menurut waktu. Oleh karena itu, bila laju tumbuh digambarkan dengan suatu grafik, dengan laju tumbuh ordinat dan waktu pada absisi, maka grafik itu merupakan suatu kurva berbentuk huruf S atau kurva sigmoid. Kurva sigmoid ini berlaku bagi tumbuhan lengkap, bagian-bagiannya ataupun sel-selnya (Latunra, dkk., 2009).
Perkecambahan adalah proses awal pertumbuhan individu baru pada tanaman yang diawali dengan munculnya radikel pada testa benih. Proses perkecambahan dan pertumbuhan perkecambahan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dalam medium pertumbuhan untuk diabsorbsi dan memacu aktivitas enzim-enzim untuk metabolisma perkecambahan di dalam benih (Salisbury dan Ross, 1995).
Perkecambahan biji bergantung pada imbibisi, penyerapan air akibat potensial air yang rendah pada biji yang kering. Air yang berimbibisi menyebabkan biji mengembang dan memecahkan kulit pembungkusnya dan memicu perubahan metabolic pada embrio yang menyebabkan biji tersebut melanjutkan pertumbuhan. Enzim-enzim akan mulai mencerna bahan-bahan yang disimpan pada endosperma atau kotiledon, dan nutrien-nutriennya dipindahkan ke bagian embrio yang sedang tumbuh (Campbell,  2003).
Perkembangan zigot itu berlanjut sampai berbentuk biji: sporofit embrio yang dorman dengan makanan cadangan dan salut pelindung. Pada angiosperma, dinding bakal buah (terkadang bersamaan dengan bagian-bagian bunga lainnya) berkembang menjadi buah. Buah merupakan adaptasi yang meningkatkan penyebaran isinya (biji-bijinya) ke lokasi yang baru. Buah menjadi tersebar karena: (1) Pengeluaran mekanis biji-bijinya. (2) Mengerahkan bantuan angin atau arus air untuk membawa biji ke tempat-tempat baru. (3) Mengerahkan bantuan hewan untuk menyebarkan biji-bijinya (Kimbal, 1983).
Banyak peneliti merajahkan ukuran atau bobot organime terhadap waktu, dan ini menghasilkan kurva pertumbuhan. Kurva pertumbuhan berbentuk-s (sigmoid) yang ideal, yang dihasilkan oleh banyak tumbuhan setahun dan beberapa bagian tertentu dari tumbuhan setahun maupun bertahun. Kurva menunjukkan ukuran komulatif sebagai fungsi dari waktu . tiga fase utama biasanya mudah dikenali: fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan.
Pada fase logaritmik, ukuran (V) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini berarti bahwa laju pertumbuhan (dV/dt) lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan ukuran organisme; semakin besar organisme, semakin cepat ia tumbuh.
Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan, biasanya pada laju maksimum selama beberapa waktu lamanya. Laju pertumbuhan yang konstan ditunjukkan oleh kemiringan yang konstan pada bagian atas kurva tinggi tanaman dan oleh bagian mendatar kurva laju tumbuh di bagian bawah. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Salisbury dan Ross, 1995).
Pada tanaman jagung seperti halnya semua tanaman hibrida selalu mempunyai apa yang disebut dengan batas genetis. Pada batasan tersebut terdapat potensi genetic, dimana dengan memacu pertumbuhan seperti apapun akan tetap tidak dapat melampaui batasan genetic tersebut, dan jumlah daun adalah salah satu batasan genetic pada tanaman semusim (Budi, 2009).

Pengamatan non destruktif:
Non destrtructive testing (NDT) adalah aktivitas tes atau inspeksi terhadap suatu benda untuk mengetahui adanya cacat, retak, atau discontinuity lain tanpa merusak benda yang kita tes atau inspeksi. Pada dasarnya, tes ini dilakukan untuk menjamin bahwa material yang kita gunakan masih aman dan belum melewati damage tolerance (Achmad, 2010).
-          Tinggi tanaman
Pengamatan dilakukan dengan mengukur tinggi tanaman mulai dari permukaan tanah sampai bagian tajuk tanaman paling tinggi.
-          Jumlah daun
Pengamatan dilakukan dengan menghitung daun-daun yang sudah membuka sempurna.
-          Diameter batang
Pengamatan dilakukan dengan mengukur batang pada ketinggian 10 cm diatas permukaan tanah dengan menggunakan jangka sorong.
Pengamatan destruktif:
Pengujian lapangan bersifat dekstruktif  dilakukan dengan mencabut sampel tanaman secara perminggu dengan mengukur :
-          Luas daun
Pengamatan dilakukan dengan menggunakan metode p x l,  dengan rumus:
 LD = p x l x k
Dimana p = panjang daun, l = lebar daun, dan k = konstanta. Nilai k didapat dari hasil bagi luas daun yang diukur dengan metode kertas millimeter dan luas daun p x l.
-          Bobot kering total tanaman
Pengamatan bobot kering total tanaman dilakukan dengan menimbang seluruh bagian tanaman yang telah di oven pada suhu 800 C sampai diperoleh berat yang konstan.
-          Laju pertumbuhan tanaman (Crop Growth Rate = CGR)
Laju pertumbuhan tanaman ialah kemampuan menghasilkan biomassa persatuan waktu. Dihitung berdasarkan pertambahan berat kering total tanaman diatas tanah persatuan waktu.
 Rumus: CGR = W2-W1  x 1         (g cm-2 hari-1)
                          T2-T1       GA
Keterangan : W1 dan W2       : Berat kering total tanaman pada saat dua
   pengamatan destruktif T1 dan T2
T1 dan T2        : Umur tanaman (dalam hari)
T1                    : saat pengamatan pertama
T2                    : saat pengamatan kedua
GA                  : Luas tanah (jarak tanam)
Secara teoritis ,apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies, maka akan terjadi interaksi diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacam-macam, salah satunya adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan suatu interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang mempengaruhi pertumbuhannya dan hidupnya secara merugikan. Bentuk dari kompetisi dapat bermacam-macam. Kecenderungan dalam kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara ekologi, spesies yang berdekatan atau yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian kompetitif ( competitive exclusion principles ) (Ewusie, 1990).


c). Masalah
Adapun permasalahan yang terdapat pada praktikum Kurva Sigmoid Pertumbuhan adalah untuk mengetahui bagaimana laju tumbuh tanaman jagung (Zea mays) pada pengamatan destruktif dan non destruktif.

B. TUJUAN
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk  mengukur laju tumbuh tanaman jagung (Zea mays) pada pengamatan destruktif dan non destruktif.

 
C. MATERIAL DAN METODA

a). Waktu dan Tempat
Melaksanakan praktikum  Kurva Sigmoid Pertumbuhan ini di lapangan depan Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP UNTAN dimulai pada hari Sabtu, 9 Maret hingga berakhir pada tanggal 18 Mei 2012. Dan pengukuran dilakukan setiap hari antara pukul 14.30-15.00 dari sejak tanaman Jagung ditanam hingga tanaman tersebut menghasilkan bunga. 

b). Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada paktikum Kurva Sigmoid Pertumbuhan antara lain pot, penggaris, oven, pisau, neraca analitik, termometer, pensil, gunting, dry and wet, dan evaporimeter. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu biji jagung (Zea mays),tanah dan pasir dengan takaran perbandingan antara tanah dan pasir adalah 2 : 1, kertas milimeter blok, benang, aluminium foil, pupuk, dan air.
.
c). Cara Kerja
Langkah pertama yang dilakukan praktikan adalah memilih bibit jagung yang baik yang hendak ditanam, selanjutnya praktikan merendam biji tersebut. Langkah selanjutnya praktikan menyiapkan media tanam dengan mencampurkan pasir dan tanah bakar dengan perbandingan 2 : 1. Selanjutnya praktikan memasukkan media tanam tersebut ke dalam 16 pot untuk setiap kelompok dan praktikan memberi label pada masing-masing pot. Praktikan memberi pupuk pada 8 pot yang ada, sedangkan 8 pot sisanya tidak diberi pupuk. Kemudian praktikan memasukkan biji jagung yang telah direndam sebelumnya ke dalam media tanam sebanyak 7 biji per pot, dimana 2 bijinya merupakan cadangan. Praktikan mengatur jarak tanam antar biji dalam pot. Selanjutnya praktikan meletakkan pot-pot tersebut di lapangan terbuka dan di siram setiap hari. Praktikan mencabut satu tanaman untuk setiap minggunya pada pengamatan destruktif untuk pengukuran berat basah dan berat keringnya. Selain itu praktikan juga mengukur faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan jagung yaitu suhu tanah, suhu udara, curah hujan, kelembaban, dry dan wet, dan evaporasi setiap hari. Selain itu pengukuran jumlah daun, luas daun, dan tinggi tanaman juga dilakukan setiap hari. Pada pengukuran setiap minggu, dipisahkan pengukuran batang dan akarnya kemudian praktikan memasukkannya ke dalam oven untuk dikeringkan dengan suhu 80˚C, selanjutnya menimbang sampel  setelah 3 hari dikeringkan di dalam oven tersebut. Pengukuran dianggap selesai setelah jagung menghasilkan bunga. Data yang ada kemudian dimasukkan dalam tabel pengamatan serta kemudian dibuat kurva sigmoid pertumbuhan dari tanaman jagung.
Rumus yang digunakan dalam pengukuran luas daun :

Luas Daun= Berat guntingan gambar daun x Luas kertas
                                        Berat kertas

D. DATA PENGAMATAN
1a. Perlakuan non destruktif (diberi pupuk)

Minggu Ke-
Tinggi Tanaman
Daun
Keterangan
Jlh
Dry
Wet
Evaporasi
Suhu Tanah
Suhu Udara
Kelembaban
Curah Hujan
1.
3,84
0,46
38,14
27,71
1,83
35.31
32
53,57
0
2.
23,08
4,29
37,56
25,89
1,62
38.71
34
53,85
0
3.
31,38
5,04
37,24
27,56
2,02
37.20
32
54,52
0,28
4.
35,34
4,78
38,37
26,63
1,83
33.53
36
51,67
0,42
5.
39,09
4,57
37,56
25,89
1,73
35.83
36
51,82
0
6.
46,26
4,65
38,14
27,71
1,76
34.70
32
55,36
0
7.
66,43
4,85
37,54
25,57
1,83
38.77
30
57,35
0,42
8.
76,1
4,82
38,29
26,56
1,73
38
34
53,57
0,42
9.
80,46
4,88
36,92
25,32
1,62
38
32
53,57
0,28

1b. Perlakuan non destruktif ( tanpa diberi pupuk)

Minggu Ke-
Tinggi Tanaman
Daun
Keterangan
Jlh
Dry
Wet
Evaporasi
Suhu Tanah
Suhu Udara
Kelembaban
Curah Hujan
1.
3,81
0,46
38,14
27,71
1,83
35.31
32
53,57
0
2.
22,86
4,23
37,56
25,89
1,62
38.71
34
53,85
0
3.
32,67
4,8
37,24
27,56
2,02
37.20
32
54,52
0,28
4.
36,89
4,68
38,37
26,63
1,83
33.53
36
51,67
0,42
5.
40,56
4,45
37,56
25,89
1,73
35.83
36
51,82
0
6.
45,65
4,57
38,14
27,71
1,76
34.70
32
55,36
0
7.
58,98
4,74
37,54
25,57
1,83
38.77
30
57,35
0,42
8.
67,37
4,74
38,29
26,56
1,73
38
34
53,57
0,42
9.
70,82
4,72
36,92
25,32
1,62
38
32
53,57
0,28


2. Perlakuan destruktif

Minggu Ke-
Tinggi Tanaman
Daun
Keterangan
Jlh
Dry
Wet
Evaporasi
Suhu Tanah
Suhu Udara
Kelembaban
Curah Hujan
1.
10,80
3,00
31,07
32,14
1,83
35.13
32
70,14
9,28
2.
28,10
5,00
36,64
33,92
1,62
38.71
34
59,42
0
3.
31,25
5,00
37,14
34,07
2,02
37.20
31
63,14
0
4.
34,95
5,00
30,21
30,57
1,83
33.53
29
76,42
4,14
5.
49,95
7,00
32,35
31,64
1,73
35.83
31
72,42
6,21
6.
65,50
7,00
33,64
30,42
1,76
34.70
30
77,57
11,71
7.
97,70
7,00
40,00
33,00
1,83
38.77
33
69,57
8,57
8.
112,30
7,00
38,29
26,56
1,73
38
34
53,57
0,42
9.
115,50
7,00
36,92
25,32
1,62
38
32
53,57
0,28














3a. Kurva sigmoid antara tanaman yang diberi pupuk dengan yang tidak diberi pupuk pada pengamatan non destruktif

 


3b. Kurva sigmoid antara tanaman destruktif dan non destruktif


E. PEMBAHASAN
Pada pengamatan kali ini digunakan tanaman jagung (Zea mays) untuk membandingkan tingkat pertumbuhannya pada dua pengamatan yakni destruktif dan non destruktif. Adapun menurut Ewusie (1990) Pengujian lapangan bersifat dekstruktif  dilakukan dengan mencabut sampel tanaman secara perminggu. Tanaman jagung yang dicabut tersebut diambil batang dan daun, serta akarnya untuk kemudian diukur berat basah maupun berat keringnya. Sedangkan menurut Achmad (2010) Non destrtructive testing (NDT) adalah aktivitas tes atau inspeksi terhadap suatu benda untuk mengetahui adanya cacat, retak, atau discontinuity lain tanpa merusak benda yang kita tes atau inspeksi. Pada dasarnya, tes ini dilakukan untuk menjamin bahwa material yang kita gunakan masih aman dan belum melewati damage tolerance. Jadi pada pengamatan secara non destruktif, tidak dilakukan pencabutan terhadap tanaman jagung. Untuk itulah pertumbuhan tanaman jagung yang lebih cepat terdapat pada pengamatan destruktif yang disebabkan sedikitnya atau berkurangnya persaingan dalam memperebutkan nutrisi/ makanana pada tanaman jagung karena banyaknya tanaman jagung yang dicabut. Hal ini makin diperkuat dengan kurva sigmoid yang dihasilkan antara tanaman destruktif dan non destruktif yang ada.

Kurva sigmoid antara tanaman destruktif dan non destruktif

  
Dari kurva tersebut dapat dilihat bahwa tinggi pertumbuhan tanaman jagung pada perlakuan destruktif jauh lebih tinggi melampaui pertumbuhan tanaman jagung pada perlakuan non destruktif. Selain itu faktor eksternal seperti suhu udara, suhu tanah, kelembaban, dry, wet, evaporasi dan curah hujan juga memiliki pengaruh yang tak kalah penting terhadap pertumbuhan tanaman jagung. Serta terpenuhinya unsur hara tanaman juga perlu untuk diperhatikan dengan rutin memberikan tanaman tersebut pupuk dan juga rutin menyiram tanaman dengan air setiap harinya sehingga tanaman terhindar dari kekeringan.


F. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Laju pertumbuhan tanaman jagung didapatkan pada perlakuan destruktif dibandingkan non-destruktif. Hal tersebut dikarenakan kurangnya persaingan yang terjadi untuk mendapatkan unsur hara karena beberapa tanaman jagung dicabut. Sedangkan pada perlakuan non-destruktif dimana semua tanamannya tetap dibiarkan hidup (tidak ada yang dicabut) maka persaingan untuk mendapatkan unsur hara jauh lebih besar sehingga mempengaruhi pada terganggunya proses metabolisme tanaman jagung tersebut. Hal ini ditunjang dengan kurva sigmoid yang terbentuk dari data pengukuran laju pertumbuhan tanaman destruktif dan non-destruktif dimana kurva destruktif memiliki tinggi yang lebih jika dibandingkan dengan non-destruktif.
Faktor eksternal dan internal juga berpengaruh terhadap laju pertumbuhan. Faktor eksternal yang mempengaruhi antara lain suhu udara, suhu tanah, kelembaban, curah hujan, dry, wet, dan evaporasi sedangkan faktor dalam yang berpengaruh yaitu gen. Untuk mempercepat laju pertumbuhan dan mencegah agar pertumbuhan tanaman tidak terhambat maka perlu dilakukan penyiraman dan pemupukan tanaman secara teratur.
Agar hasil pengukuran yang didapatkan akurat maka rekomendasi yang dapat saya berikan adalah dengan melakukan pengukuran secara teliti dan teratur agar kurva yang dihasilkan nantinya berbentuk huruf s (sigmoid).

 
DAFTAR PUSTAKA
Budi, Mikael Adri S. 2009. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik dan 4 Efektif Organisme (EM4) pada Pertumbuhan Fase Vegetatif Tanaman Jagung (Zea mays) var. sweet com. Vol 2, No. 3 April 20092256-263 Jurnal FORMAS ISSN I 1978-8452. http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:vUUg5zUMhusJ:jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/2409256263.pdf+Kurva+Sigmoid+Pertumbuhan+Jagung+Pdf&hl=id&gl=id. (Diakses pada tanggal 17 Mei 2012).
Campbell, Neil A. Biologi. 2003. Jakarta: Erlangga.
Ewusie. 1990. Ekologi Tropika .  Bandung: ITB.
Kimbal, John W. 1983. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Latunra. 2009. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan II. Makassar: Universitas Hasanuddin.
Salisbury, Frank B.  & Ross, Cleon W.  1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB.

















Read more...

DraMione Fanfiction (Indonesia): When You’re Gone

>> Minggu, 29 Juli 2012

Author            : Anastasia Ervina a.k.a V-chan
Title                : When You’re Gone
Genre              : Romance-Angst
Type                : One Shot
Rating             : General

Cast                 : Draco Malfoy & Hermione Granger (DraMione)

Disclaimer         : Semua karakter adalah kepunyaan J.K Rowling. Saya hanya memiliki ide dan plot cerita ^^

Theme songs   : 
-When You’re Gone by Avril Lavigne
- Nada Sousou by Natsukawa Rimi
-Wo Ai Ta (Ost. Autumn’s Concerto) by Della Ding


A/n                  : I wrote this story because My Uncle. For  My Uncle, please take a rest peacefully in the Heaven now :')


Untuk kalimat/ Paragraf yang berwarna ungu menandakan bahwa bagian itu adalah berupa ‘Ingatan Masa Lalu Hermione’.
Selamat membaca...

Dan untuk Stefani Febrina, ini Fanfic DraMione-nya. Tapi maaf lagi-lagi Angst *kabur*




***
Wanita itu dengan segala kabut yang menyelimuti hatinya duduk di samping perapian, menghadap ke luar jendela. Syal rajut berwarna merah gelap membebat lehernya dengan sempurna, mencegah agar hanya sedikit saja dingin yang dapat menggerogotinya—walau sebenarnya di dalam hatinya hampir beku. Hampir membentuk bongkahan batu yang dingin dan keras.

Manik hazelnya mengikuti butiran salju yang jatuh perlahan-lahan dari langit yang diwarnai kepekatan di malam Natal tersebut. Langit itu bahkan menelan rakus penerang malam; bintang-bintang dan bulan. Keadaan langit itu sekilas tampak sama dengan wanita berambut cokelat semak itu. Suram. Tak bercahaya.
Kini ia membiarkan lembaran-lembaran cerita lama melintas dibenaknya...



“Hei, Zabini. Lihatlah! Ada Mudblood di ruangan ini. Pantas saja badanku langsung gatal-gatal begini. Kau tau kan, mereka sangat kotor dan menjijikan. Kurasa aku harus menjauhi mereka setidaknya dari radius dua meter!” ujar seorang pemuda jangkung berambut pirang platina yang baru saja memasuki Ruang Perpustakaan kepada kedua rekannya—err, atau pengawalnya?

Mendengar perkataan pemuda jangkung itu, kedua rekannya—yang merangkap sebagai pengawal pribadinya—tertawa terbahak-bahak. Dengingan tawa itu tampaknya sangat mengundang kemarahan gadis yang sejak tadi duduk menyelami berpuluh-puluh buku tebal di sudut Ruang Perpustakaan yang semula senyap—sebelum kedatangan tiga begundal Slytherin tentu saja. Gigi gadis itu bergemeletuk menahan amarah yang sejak tadi dibendungnya. 

“ Kau pikir itu cukup lucu, Malfoy?!” Kini gadis berambut semak kecoklatan itu telah berdiri sembari mengemas buku-bukunya. Ia telah kehilangan nafsu membacanya hanya karena kedatangan pemuda yang mengaku sebagai ‘Pangeran Slytherin’ itu. “ Asal kau tau saja, aku bahkan tak cukup kuat berada satu ruangan denganmu hanya karena rambut pirang platinamu yang bisa membuat siapa pun yang memandangnya menderita rabun mendadak. Well, diusiamu yang cukup muda seperti sekarang, rambutmu telah membuatmu terlihat seperti seorang kakek-kakek tua renta yang tak berdaya. Oh, betapa malang nasibmu, Malfoy~” ujar gadis itu lagi dengan ekspresi wajah dan nada bicara yang dibuat-buat seolah terlihat seakan ‘mengasihani’ pemuda jangkung itu. 

Demi mendengar perkataan gadis berambut semak barusan, baik Blaise maupun Theo  tanpa sadar tertawa terbahak-bahak. Mereka membayangkan dengan tampang geli betapa konyolnya seorang Draco Malfoy dengan wujud kakek-kakek tua renta. Dan tambahkan pula; dalam kondisi yang tak berdaya. Sayangnya mereka melupakan satu hal. Tertawa di daerah yang berbahaya. Rahang pemuda jangkung bernama Draco itu sejak tadi mengeras menahan amarah yang membuncah saat melihat kedua rekannya yang seharusnya membelanya malah menertawakannya di depan musuh bebuyutan abadinya di Hogwarts—selain Harry dan Ron tentu saja. 

“DIAMLAH KALIAN BERDUA!” teriak putra tunggal Malfoy pada akhirnya pada kedua rekannya itu. Mendengar itu baik Blaise maupun Theo seakan terseret kembali ke dunia nyata. Mereka mengunci mulutnya rapat-rapat. Mereka sadar Draco sedang dalam keadaan berbahaya. “—dan kau Granger, mau pergi kemana kau?!” desisnya kemudian.

Gadis bernama Hermione Granger itu pun menghentikan langkahnya dan menoleh pada Draco dengan tampang berpura-pura kaget. “ Oh, ayolah Draco...Maksudku, sejak kapan kau mulai peduli padaku seperti ini?”

Mendengar perkataan Hermione, wajah pucat Draco dengan cepat berubah merona. Mungkinkah itu pertanda Sang Pangeran Slytherin itu sedang tersipu?

“M-maksudku...kau tidak bisa pergi begitu saja dari sini!” ujar Draco pada akhirnya memberanikan manik kelabunya untuk menatap manik hazel yang berkilau di hadapannya itu.

“Oh, kau malah membuatku makin terkejut!” Hermione kini malah membelalakkan kedua matanya seakan bola mata itu dapat tergelincir keluar, “Apa kau mulai lupa dengan penyakit anti-mugglemu, Malfoy? Bukannya baru saja kau bilang kau bisa alergi bila dekat-dekat dengan mudblood sepertiku? Dan walaupun penyakitmu itu sudah sembuh, tapi tidak begitu halnya denganku. Jangan lupakan, Malfoy...Aku sangat alergi dengan pirang platina milikmu itu. Well, alergi ini seperti mendarah daging. Kau taukan apa artinya itu? Itu berarti alergi ini tidak mudah disembuhkan—atau bahkan mungkin tidak akan pernah dapat disembuhkan selamanya,” ujar Hermione kini yang dengan mantap melenggang menjauhi Draco dan pengawalnya. Sementara Draco? Oh, jangan tanyakan. Kini wajahnya sudah merah seperti terbakar api.

Ia tersenyum saat kenangan itu melintas dibenaknya. Perseteruannya dengan Draco yang konyol kala itu. Masa-masa yang paling menyebalkan sekaligus sangat ia rindukan kini. Kini ia memejamkan matanya, menyembunyikan kilau hazelnya yang meredup di balik kelopak matanya. Membuka lembaran kenangan berikutnya...


“Granger! Larilah! Di sini berbahaya!” teriak Draco disela-sela pertarungannya dengan beberapa pelahap maut yang tak henti-hentinya melemparkan kutukan ke arahnya.

“Tidak, Malfoy! Aku tidak akan pergi!” Kini Hermione kembali memasuki area pertempuran yang menyebabkan Draco membelalakkan kedua matanya. Kesempatan itu digunakan dengan baik oleh pelahap maut untuk melemparkan kutukan ke arahnya.

“ Crucio!”

“Malfoy!” Hermione berlari tertatih-tatih ke arah Draco yang jatuh terjerembab dengan keras ke tanah.

“Confringo!” ujar Hermione melemparkan kutukan peledak pada sekawanan pelahap maut yang mencoba menyerangnya.

“Impedimenta!”

“Petrificus totalus!”

Dengan sigap Hermione melemparkan kutukan-kutukan tanpa henti ke arah pelahap maut di sekitarnya sehingga satu per satu pelahap maut itu berhasil dilumpuhkan. Draco berjalan tertatih ke arah Hermione sambil memegang lengan kiri gadis itu yang terluka mengucurkan darah.

“Kau keras kepala, Granger! Kau sedang terluka seperti ini. Dan kau tak mempercayaiku menghadapi mereka. Kau membuatku khawatir...” desis Draco pelan namun sangat jelas terdengar di telinga Hermione.

Hermione membalikkan tubuhnya sehingga kini ia dapat menatap langsung manik kelabu yang selalu memancarkan aura dingin di hadapannya.

“Kau yang terlalu mencemaskanku, Malfoy. Aku tak selemah yang kau pikirkan.” 

“ Ya, kau sangat kuat ‘Nona-Tahu-Segala’. Tapi aku masih tak dapat membayangkan jika aku harus kehilangan gadis yang sejak tahun pertama telah diam-diam merebut hatiku...” Kini Draco mulai menggenggam lembut kedua tangan Hermione yang mendadak terasa dingin bagai es. Atau mungkin segala kehangatan milikinya telah terserap oleh ‘Pangeran Es Slytherin’ itu? 

“Aku mencintaimu, Hermione Jean Granger. Dan aku ingin menjagamu selamanya...” ujar Draco lembut dan penuh perasaan. Hal itu tentunya membuat gadis di hadapannya nyaris mati karena rasa kaget yang luar biasa. Namun dibalik rasa kaget itu, terselip sejuta rasa bahagia. Ya, Hermione tau itu. Ia bahagia. Sangat bahagia atas pernyataan cinta itu.

Gadis itu tersenyum dengan mata masih terpejam. Mengingat pernyataan cinta Draco selalu membuatnya tersenyum dan merasa menjadi gadis paling beruntung saat itu. Udara malam yang dingin mulai menggigit kulit. Ia merapatkan syal dan mantel kulit yang dikenakannya. Dari jendelanya dapat terlihat salju telah turun dengan tebal. Melihat salju yang putih, lembut dan tak bernoda itu membuat Hermione teringat pada hari tersakral sepanjang hidupnya...


Terlihat seorang gadis dengan gaun panjang berwarna putih lembut membalut tubuh rampingnya berjalan memasuki Gereja dengan senyum terindah yang dapat diberikannya. Rambutnya ditata rapi dalam sanggul dan bermahkotakan hiasan bintang-bintang kecil yang tampak berkilau di antara rambut cokelat kelamnya. Sementara Draco menatap penuh kagum kedatangan calon istrinya. Hari itu ia juga terlihat sangat tampan mengenakan tuksedo putih dan jangan lupakan rambut pirang platinanya yang tampak berkilau dan telah disisir rapi olehnya. Ia menggamit lengan Hermione. Berdua mereka berjalan perlahan menuju altar. Sesi terpenting dalam Upacara Pernikahan pun dimulai. Mengucapkan Janji Pernikahan.

“ Draco Lucius Malfoy, bersediakah Anda untuk mencintai istri Anda dalam keadaan sehat atau pun sakit dan dalam keadaan senang atau pun susah?” tanya Pendeta tersebut menatap Draco.

“Ya, saya bersedia,” ucap Draco mantap.

Kini pendeta tersebut berbalik menatap Hermione.

“Hermione Jean Granger, bersediakah Anda untuk mencintai suami Anda dalam keadaan sehat atau pun sakit dan dalam keadaan senang atau pun susah?”

“Ya, saya bersedia,” sahut Hermione serak menahan rasa haru yang menyelimutinya.

Dan dengan itu mereka berdua resmi menjadi sepasang suami istri di mata Tuhan dan juga di saksikan oleh seluruh keluarga dan kerabat mereka yang datang pada Upacara Pernikahan pada hari tersebut.

 
Hermione kini menghapus pelan setitik air mata haru yang lolos dari sudut matanya. Ia bangkit perlahan dari kursi yang sejak tadi ia duduki. Diraihnya pigura yang terletak di meja kayu yang tak jauh dari perapian. Ia peluk pigura itu untuk sekedar melepas kerinduannya pada sosok yang ada di dalamnya. Hermione membawa pigura itu dan kembali duduk di samping perapian. Sesekali diusapnya gambar seorang pemuda berambut pirang platina yang ada di dalam pigura itu. Mata kelabu, dagu runcing, dan bibir tipis yang selalu digunakan hanya untuk menyeringai itu...entah kenapa sekarang begitu ia rindukan.

Lima tahun membina rumah tangga dengan Draco, membuat Hermione merasa menjadi wanita yang diselimuti keberuntungan. Draco selalu melingkupinya dengan kasih sayang, ketulusan dan segenap perhatian yang membuatnya merasa sangat berharga di mata lelaki itu. Namun ia tak pernah menyangka bahwa segala kasih sayang itu harus terampas secepat itu darinya...


“Hermione...” ujar sebuah suara yang tampak terengah-engah. Hermione yang ketika itu tengah merajut syal untuk suaminya di ruang tengah dengan sigap melemparkan pandangannya pada pria berambut hitam berantakan dan berkaca mata bundar tersebut yang segera berjalan menghampirinya.

“Harry! Ada apa kau kemari? Bukannya kau, Draco, dan yang lain sedang bertempur melawan Kau-Tahu-Siapa?” tanya Hermione menatap sahabatnya dengan raut wajah heran. Seketika ada guratan kelam tergambar di wajah Harry. Hermione tau ada sesuatu yang tidak beres yang telah terjadi. “Katakan, Harry...Apa yang telah terjadi?” tuntut Hermione mencengkeram kedua lengan Harry. Harry tak kunjung menjawab. Tubuhnya menegang dan tampak sedikit bergetar.

“Kami berhasil mengalahkan Kau-Tau-Siapa—“

“Oh ya? Itu bagus, Harry! Aku sangat senang mendengarnya. Aku juga sangat ingin ikut bertempur. Andai saja Draco mengijinkan...” sesal Hermione.

“—dan Draco...” Harry menelan ludahnya dengan susah payah. “ Maafkan aku Mione... Aku tidak bisa menolongnya...” Kini tubuh Harry sepenuhnya berguncang—menangis tepatnya. 

Syal yang sejak tadi dipegang Hermione seketika terjatuh begitu saja dari genggamannya. Manik hazelnya yang selalu lincah dan bersemangat tampak berkabut. “ Apa maksudmu dengan  tidak bisa menolongnya, Harry?” desisnya dengan nada bergetar.

“Draco sudah tiada, Mione... Aku merasa sangat bersalah memberitaumu tentang ini. Maafkan aku, Mione...Maafkan aku tidak berhasil menolongnya...” Harry dengan sigap menarik tubuh Hermione yang berguncang hebat  masuk ke dalam pelukannya. Ia tau akan begini jadinya. Ia tau bahwa Hermione akan sangat terpukul mendengar kenyataan yang memilukan ini.


Pigura itu kini telah dipenuhi dengan genangan air. Bukan. Itu bukan air hujan yang menetes dari atap yang bocor atau salju yang masuk terbawa angin dan mencair melainkan air itu berasal dari tangisan wanita berambut semak cokelat yang kini tengah menangis tersedu-sedu.

“Draco, kenapa kau pergi begitu cepat? Kenapa?” ujarnya dengan suara parau.

Ia ingat betul kala terakhir kali melihat wajah suaminya  di dalam peti, tepatnya sebelum pemakaman senja tadi. Tak dapat dipungkiri ia terlihat sangat tampan. Wajahnya yang pucat itu terlihat semakin pucat. Manik kelabunya yang menyiratkan aura dingin dalam dirinya tersembunyi rapat di balik kelopak matanya. Hermione yakin ia pasti sangat merindukan melihat manik kelabu itu lagi—secara nyata—tentunya. Oh, dan kini Hermione mulai menyadari suatu keanehan. Bibir tipis suaminya itu...tersenyum! Demi rambut putih Merlin! Hermione ingat betul bahwa seorang Draco Malfoy tidak pernah tersenyum. Catat. Tidak pernah! Ia hanya punya bakat menyeringai. Setidaknya itu yang Hermione tau. Tapi Hermione tau Draco selalu tersenyum di dalam hatinya. Ya, dia tau itu. Dia tau bagaimana pria yang telah menjadi suaminya sejak lima tahun itu adalah tipe orang yang sangat sulit untuk bereskpresi baik disaat dia sedang bahagia ataupun sedang diselimuti kegundahan. Entah bagaimana ia selalu memasang tampang dingin dan ekspresi datar kebanggaannya yang seringkali membuat Hermione merasa jengah. Tapi sekarang, lihatlah! Draco Malfoy tersenyum! Apakah ia begitu bahagia sekarang bisa bertemu dengan ibunya—Narcissa Malfoy—lagi? Setidaknya itulah yang Hermione pikirkan.

“Malam ini adalah malam Natal sekaligus malam pertamaku tanpamu, Draco. Entah kenapa aku merasa sangsi melewatkan hari-hari ke depan tanpamu. Apakah kau di sana melewatkan malam Natal dengan bahagia, dear? Sayangnya aku tidak. Tidak akan pernah ada lagi malam Natal yang bahagia untukku setelah kepergianmu...” Hermione memaksakan menutup matanya yang sembab dan memeluk pigura yang membingkai potret suami tercintanya erat-erat. Guratan kesedihan dan keputusasaan terlukis jelas di wajah lelah itu. Dan tak perlu waktu lama ia jatuh tertidur dan bermimpi merayakan malam Natal bersama suaminya tercinta—Draco Malfoy. Dan lihatlah, kini ia tersenyum dalam tidurnya. Berharap ia tak akan pernah lagi terbangun pada kenyataan yang menyakitkan—kehilangan Draco Malfoy—selama-lamanya.

-Fin-


Read more...

KULIAH UMUM MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI

>> Jumat, 20 Juli 2012


Jumat (15/6), Mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP UNTAN mengikuti kuliah umum yang diadakan oleh Dr. Hj. Suciati Sudarisman, M.Pd yang merupakan dosen FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS)  Solo. Kuliah umum tersebut dilaksanakan di Aula FKIP UNTAN dengan tema “Meningkatkan Mutu Pendidikan Sains yang Berkarakter Melalui Keterampilan Proses Sains”.
Mahasiswa Pendidikan Biologi mengikuti kuliah umum ini dengan sangat antusias karena materi yang dipaparkan oleh Dr. Hj. Suciati Sudarisman, M.Pd dikemas oleh beliau dengan sangat menarik. Beliau mengatakan bahwa, “Memasuki era globalisasi saat ini, laju perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) berkembang pesat. Sehingga agar tidak ketinggalan dengan perkembangan zaman, maka derap langkah kita harus seirama dengan perubahan tersebut. Satu diantaranya yaitu dengan merubah cara berpikir kita menjadi lebih kritis dan kreatif sehingga kita dapat memecahkan permasalahan yang ada di sekitar kita berdasarkan pengetahuan sains yang kita miliki”.
Menurut pengamatan beliau sejauh ini literasi sains yakni meliputi kemampuan membaca, memahami, menyatakan ide tentang sains, dan memiliki keterampilan proses sains, serta mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari masih sangat rendah di kalangan masyarakat Indonesia. Rendahnya literasi sains ini mengindikasikan bahwa pembelajaran sains (Biologi) di sekolah masih bermasalah. Selama ini pembelajaran Biologi hanya berorientasi pada aspek kognitif sehingga banyak yang menganggap Biologi sebagai ilmu hafalan yang monoton dan tidak menarik. Hal tersebut tentunya akan membatasi siswa dalam berpikir kritis dan kreatif. Untuk itu seharusnya pembelajaran Biologi juga harus berpusat pada aspek afektif dan psikomotor. Dengan begitu diharapkan sekolah-sekolah dapat mencetak para generasi penerus bangsa yang kelak dapat membuat perubahan kearah yang lebih baik bagi bangsa Indonesia.
Setelah Dr. Hj. Suciati Sudarisman, M.Pd selesai menyampaikan materi kuliah umum pada hari tersebut, beliau kemudian membuka sesi tanya jawab bagi mahasiswa yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai materi kuliah yang disampaikannya. Hal ini disambut antusias oleh mahasiswa pendidikan Biologi yang terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang mengajukan pertanyaan. Tentu sangat menyenangkan jika kuliah umum yang menarik seperti ini dapat diadakan kembali kedepannya. (vn)

Read more...

About this Blog

Seguidores

    © Summervina. Friends Forever Template by Emporium Digital 2009

Back to TOP