[Laporan Embriologi] PENGAMATAN APUSAN VAGINA HAMSTER DAN SUMBAT VAGINA HAMSTER

>> Selasa, 25 Juni 2013






BAB I
PENDAHULUAN
A.    Tujuan
Adapun tujuan praktikum ini adalah untuk mengamati apusan vagina hamster serta mengamati adanya sumbat vagina pada hamster betina.

B.     Dasar Teori
Manusia dan banyak primata lain mempunyai siklus menstruasi, sementara mamalia lain mempunyai siklus estrus. Siklus ini berdasarkan perubahan berkala pada ovarium, yang terdiri dari 2 fase, yaitu folikel dan lutein. Fase folikel merupakan fase pembentukan folikel sampai masak, sedangkan fase lutein adalah fase setelah ovulasi sampai ulangan berikutnya dimulai (Yatim, 1994).
Daur estrus, terutama pada polyestrus dapat dibedakan atas tahap : proestrus, estrus, dan diestrus. Proestrus adalah periode pertumbuhan folikel dan dihasilkannya banyak estrogen. Estrogen ini merangsang pertumbuhan selluler pada alat kelamin tambahan, terutama pada vagina dan uterus. Estrus merupakan klimaks fase folikel. Pada masa inilah betina siap menerima jantan, dan pada saat ini pula terjadi ovulasi. Waktu ini betina jadi berahi atau panas. Ciri-ciri  dari fase siklus estrus tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Proestrus : terdapat sel epitel biasa
2.      Estrus : terdapat sel menanduk (cornified)
3.      Diestrus : terdapat sel epitel biasa dan banyak leukosit
4.      Matestrus (kalau ada) : terdapat banyak sel epitel menanduk dan leukosit, kemudian juga sel epitel biasa (Yatim, 1994).
Pada saat hewan berada pada fase diestrus, maka pada saat itu hewan-hewan tersebut tidak aktif secara seksual. Semua hewan mamalia betina kecuali primata tingkat tinggi, kopulasi hanya dimungkinkan berlangsung pada periode tertentu di dalam setiap siklus estrusnya. Periode dimana secara psikologis dan fisiologis hewan betina  bersedia menerima pejantan dinamakan berahi atau estrus. 
Fase estrus biasanya ditandai dengan alat kelamin luarnya, yaitu vulva yang membengkak dan berwarna kemerahan. Keberhasilan perkawinan mencit ditandai dengan adanya sumbat vagina (vaginal plug) yaitu suatu gumpalan cairan yang menutupi lubang vagina. Adanya sumbat vagina merupakan hari kehamilan ke-0 mencit. Zigot yang terbentuk dari hasil fertilisasi akan mengalami perkembangan menjadi embrio (Andre, 2011).
Ketika  berahi, seekor betina berada pada status psikologis yang berbeda secara  jelas dibandingkan dengan sisa periode di luar berahi di dalam siklus. Pejantan biasanya tidak menunjukkan perhatian seksual pada betina di luar masa berahi, dan bila pejantan akan mengawini betina, maka hewan betina akan menolak (Adnan, 2010).
Manusia dan banyak primata lain mempunyai siklus menstruasi (menstrual cycle), sementara mamalia lain mempunyai siklus estrus (estorus cycle). Pada kedua kasus ini, ovulasi terjadi pada suatu waktu dalam siklus itu setelah endometrium mulai menebal dan teraliri banya darah, karena menyiapkan uterus untuk kemungkinan implantasi embrio. Satu perbedaan antara kedua jenis siklus itu melibatkan nasib lapisan uterus jika kehamilan tidak terjadi. Pada siklus menstruasi, endometrium akan meluruh dari uterus melalui serviks dan vagina dalam pendarahan yang disebut sebagai menstruasi. Pada siklus estrus, endometrium diserap kembali oleh uterus, dan tidak terjadi pendarahan yang banyak (Campbell, 2004).
Perbedaan utama lainnya meliputi perubahan perilaku yang lebih jelas terlihat selama siklus estrus dibandingkan dengan siklus menstruasi, dan pengaruh musim dan iklim yang lebih kuat pada siklus estrus. Sementara seorang perempuan bisa reseptif terhadap aktivitas seksual sepanjang siklus, sebagian besar mamalia hanya akan berkopulasi selama periode di sekitar ovulasi. Frekuensi siklus reproduksi sangat bervariasi di antara mamalia. Lama siklus menstruasi pada manusia rata-rata 28 hari , siklus estrus tikus hanya 5 hari (Campbell, 2004).
Metode vaginal smear menggunakan sel epithel dan sel leukosit sebagai bahan identifikasi. Sel epithel merupakan sel yang terletak di permukaan vagina, sehingga apabila terjadi perubahan kadar estrogen maka sel epithel merupakan sel yang paling awal terkena akibat dari perubahan tersebut. Sel leukosit di vagina berfungsi membunuh bakteri dan kuman yang dapat merusak ovum. Sel epithel berbentuk oval atau poligonal, sedangkan sel leukosit berbentuk bulat berinti. Pembuatan apus mukosa vagina (vaginal smear) dilakukan untuk mengamati tipe sel dari masing-masing fase dalam siklus estrus. Hewan yang dapat diamati siklus estrusnya adalah hewan yang telah masak kelaminnya dan tidak sedang hamil (Soeminto, 2008).
Hamster adalah binatang sejenis hewan pengerat, terdapat berbagai jenis di dunia dan hampir ada di tiap negara. Bentuknya yang mini membuat hamster mudah untuk dibawa ke mana-mana dan tidak memerlukan kandang yang terlalu besar untuk merawatnya. Hamster jantan memiliki testis yang besar sesuai dengan ukuran tubuh mereka. Hamster muda lebih sulit melakukan seks.
Hamster melakukan pembuahan pada usia yang berbeda tergantung dari spesiesnya, tetapi hal ini bisa dilakukan pada usia 1 bulan sampai 3 bulan. Hamster jantan tetap dapat melakukan pembuahan selama hidupnya, namun betina tidak. Hamster betina mengalami estrus kira-kira setiap tiga hari (Anonim, tanpa tahun). 

BAB II
METODOLOGI
A.    Waktu Pelaksanaan
1.      Praktikum Apusan Vagina  dilakukan pada:
Hari/ tanggal   : Rabu/ 24 April 2013
Waktu             : 13.00-15.00
Tempat            : Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP Universitas Tanjungpura

2.      Praktikum Sumbat Vagina  dilakukan pada:
Hari/ tanggal   : Kamis & Jumat/ 25 dan 26 April 2013
Waktu             : 06.00
Tempat            : Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP Universitas Tanjungpura


B.     Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah:
a.       kaca objek dan kaca penutup
b.      mikroskop
c.       pipet tetes

Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah:
a.       hamster betina
b.      hamster jantan
c.       NaCl 0,9%
d.      metylen blue 1%
e.       cotton bud

C.    Cara Kerja
a.      Pengamatan Apusan Vagina Hamster
1.      Hamster betina diambil, kemudian dipegang dengan tangan kiri, ibu dan telunjuk jari memegang tengkuknya atau leher dorsal.
2.      Badan dan ekor dipegang dengan jari tengah, jari manis, dan kelingking.
3.      Bagian vagina disemprotkan NaCl 0,9% menggunakan pipet yang tumpul, kemudian dihisap 3 sampai 4 kali dengan hati-hati dan perlahan-lahan.
4.      Cairan pada pipet dari hasil penyemprotan/ pengisapan berwarna keruh, kemudian diteteskan pada objek glass 1 sampai 2 tetes. Dibiarkan sampai kering.
5.      Ditetesi dengan larutan pewarna metilen blue 1%. Dibiarkan 5-10 menit.
6.      Diamati di bawah mikroskop. Bila zat warna berlebih, dibilas dengan air dengan cara meneteskan air.
7.      Ditutup dengan glass penutup.

b.      Pengamatan Sumbat Vagina Hamster
1.      Hamster betina yang sudah siap kawin disatukan dengan hamster jantan.
2.      Keesokan harinya (± 12 jam) hamster betina diambil, dipegang dengan tangan kiri, kemudian tengkuknya atau leher dorsal dipegang dengan ibu dan telunjuk jari.  Badan dan ekor dipegang dengan jari tengah, jari manis, dan kelingking.
3.      Diamati terjadinya sumbat vagina pada hamster tersebut.





BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.           Hasil Pengamatan
1.      Apusan Vagina Hamster


Keterangan:
1.      membran Sel
2.      inti Sel
3.      sitoplasma




2.      Sumbat Vagina Hamster



Keterangan:
tidak terdapat sumbat vagina pada hamster.




B.            Pembahasan
Pada praktikum pengamatan Apusan Vagina dan Sumbat Vagina digunakan hamster. Hal ini dikarenakan hamster memiliki siklus estrus yang pendek yang menurut Anonim (tanpa tahun) hamster betina mengalami estrus kira-kira setiap tiga hari, sehingga cocok digunakan untuk pengamatan.
Untuk pengamatan apusan vagina, menurut Soeminto (2008) dilakukan untuk mengamati tipe sel dari masing-masing fase dalam siklus estrus.
Dari hasil pengamatan, diketahui hamster betina yang digunakan sedang mengalami fase proestrus. Dimana pada fase tersebut ditandai dengan adanya sel epitel biasa.

Gambar 1: fase proestrus yang ditandai dengan adanya sel epitel biasa pada pengamatan apusan vagina hamster
Dari hasil pengamatan yang diperoleh, apabila dibandingkan dengan gambar dari bentuk sel-sel pada daur estrus, maka terlihat bahwa pada fase proestrus, hanya terdiri dari sel epitel biasa yang terlihat berbentuk bulat. Fase selanjutnya yaitu estrus terdiri dari sel epitel menanduk (cornified) yang bentuknya tak beraturan dan tak memiliki inti sel. Terakhir adalah fase diestrus yang terdapat sel epitel biasa dan juga leukosit.

Gambar 2: apusan vagina pada daur estrus
Menurut Soeminto (2008), sel epitel merupakan sel yang terletak di permukaan vagina, sehingga apabila terjadi perubahan kadar estrogen maka sel epitel merupakan sel yang paling awal terkena akibat perubahan tersebut. Sementara menurut Yatim (1994), pada proestrus dihasilkan banyak estrogen. Jadi berdasarkan hal tersebut, maka sel epitel yang terlihat pada fase proestrus pada saat pengamatan akan mudah berubah akibat adanya perubahan kadar estrogen.
Pada fase diestrus, selain terdapat sel epitel biasa, juga ditemukan adanya sel leukosit yang menurut Soeminto (2008) berfungsi membunuh bakteri dan kuman yang dapat merusak ovum.
Menurut Adnan (2010), pada saat hewan berada pada fase diestrus, maka pada saat itu hewan-hewan tersebut tidak aktif secara seksual. Semua hewan mamalia betina kecuali primata tingkat tinggi, kopulasi hanya dimungkinkan berlangsung pada periode tertentu di dalam setiap siklus estrusnya. Periode dimana secara psikologis dan fisiologishewan betina  bersedia menerima pejantan dinamakan berahi atau estrus.
Pada pengamatan sumbat vagina hamster, hamster betina yang sudah siap kawin disatukan dengan hamster jantan pada jam enam sore dan dibiarkan selama kurang lebih 12 jam dengan harapan terjadi perkawinan pada kedua hamster tersebut. Pada hari pertama tepatnya jam enam pagi setelah hamster betina dan jantan disatukan, tidak terdapat sumbat vagina pada hamster. Hal ini menandakan bahwa hamster belum memasuki fase estrus dimana menurut Yatim (1994) pada masa inilah betina siap menerima jantan, dan pada saat ini pula terjadi ovulasi.

Gambar 3: tidak terdapat sumbat vagina pada hamster
Namun pada hari kedua, kedua hamster mati, jadi tidak dapat lagi melihat ada tidaknya sumbat vagina pada hamster. Sumbat vagina menurut Andre (2011) adalah suatu gumpalan cairan yang menutupi lubang vagina. Adanya sumbat vagina merupakan hari kehamilan ke-0 mencit.




BAB IV
PENUTUP
A.           Kesimpulan
1.        Pada pengamatan apusan vagina hamster, terlihat adanya sel epitel biasa pada pengamatan yang merupakan ciri dari fase proestrus.
2.        Hamster mengalami daur estrus yang terdiri dari fase proestrus, estrus, diestrus, dan metestrus.
3.        Fase estrus ditandai dengan adanya sel epitel menanduk, fase diestrus ditandai dengan sel epitel biasa dan banyak leukosit, dan fase metestrus ditandai dengan banyak sel epitel menanduk dan leukosit dan juga terdapat sel epitel biasa.
4.        Pengamatan apusan vagina dilakukan untuk mengamati tipe sel pada masing-masing fase dalam daur estrus.
5.        Sumbat vagina adalah suatu gumpalan cairan yang menutupi lubang vagina yang menandakan awal kehamilan pada hamster.
6.        Pada pengamatan tidak berhasil melihat adanya sumbat vagina pada hamster.
7.        Adanya sumbat vagina menandakan hamster telah memasuki fase estrus dan merupakan hari kehamilan ke-0.



DAFTAR PUSTAKA
Adnan. 2010. Penuntun Praktikum Perkembangan Hewan. Makassar: UNM.
Andre. 2011. Embriologi Bab 2.  http://andre4088.blogspot.com/2011/11/embriologi-bab-2.html. (Diakses 1 Mei 2013).
Anonim. Tanpa tahun. Hamster. http://id.wikipedia.org/wiki/Hamster. (Diakses 1 Mei 2013).
Campbell, N.A. 2004. Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Soeminto. 2008. Buku dan Petunjuk Praktikum Struktur dan Perkembangan Hewan II. Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman.
Yatim, W. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Bandung: Tarsito.

0 komentar:

About this Blog

Seguidores

    © Summervina. Friends Forever Template by Emporium Digital 2009

Back to TOP